Selasa, 27 Desember 2011



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. Bahwa penulis telah menyelesaikan tugas mata kuliah Sejarah Peradaban Islam yang membahas tentang Pemikiran Tasawuf Abu Yazid al-Bustami dan Ibnu Arabi dalam bentuk makalah.
 Selanjutnya, makalah yang kini berada dihadapan pembaca yang budiman, disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf. Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan dari berbagai pihak, terutama dorongan dan bimbingan dari orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi       teratasi. Oleh karena itu         penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.                 Bapak Drs. M. Syafwan HB, M.A. dosen pembimbing mata kuliah akhlak tasawuf yang telah memberikan tugas, pedoman, kepada penulis sehingga penulis termotivasi dalam menyelesaikan tugas ini.
2.                 Orang tua yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas ini selesai.
3.                 Rekan-rekan semua dijurusan PBA yang juga ikut menyumbangkan hasil pemikirannya demi kesempurnaan makalah ini.
4.                  Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam penulisan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah. Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amin.
Padang, 22 Oktober 2011
                                                                                Ttd






BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Akhlak Tasawuf merupakan salah satu khazanah intelektual Muslim yang kehadirannya hingga saat ini semakin dirasakan. Secara teologis dan histologis, Akhlak Tasawuf tampil mengawal dan memandu perjalanan hidup umat agar selamat dunia dan akhirat. Tidaklah berlebihan jika misi utama kerasulan Muhammad SAW. adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, dan sejarah mencatat bahwa faktor pendukung keberhasilan dakwah beliau itu antara lain karena dukungan akhlaknya yang prima, hingga hal ini dinyatakan oleh Allah di dalam Al-Quran.
          Kepada umat manusia, khususnya yang beriman kepada Allah diminta agar akhlak dan keluhuran budi Nabi Muhammad SAW. itu dijadikan contoh dalam kehidupan diberbagai bidang. Mereka yang mematuhi permintaan ini dijamin keselamatan hidupnya di dunia dan di akhirat.
          Perhatian terhadap pentingnya Akhlak Tasawuf kini muncul kembali, yaitu disaat manusia modern ini dihadapkan pada masalah moral dan akhlak yang cukup serius, yang kalau dibiarkan akan menghancurkan masa depan bangsa yang bersangkutan. Praktek hidup yang menyimpang dan penyalahgunaan kesempatan dengan mengambil bentuk perbuatan sadis dan merugikan orang lain kian tumbuh subur di wilayah yang tak berakhlak dan tak bertasawuf. Korupsi, kolusi, penodongan, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, dan perampasan hak-hak asasi manusia pada umumnya terlalu banyak yang dapat dilihat dan disaksikan. Cara mengatasinya bukan hanya dengan uang, ilmu pengetahuan dan tekhnologi, tetapi harus dibarengi dengan penanganan di bidang mental spiritual dan akhlak yang mulia.
             Melihat demikian pentingnya akhlak tasawuf dalam kehidupan ini, tidaklah mengherankan jika Akhlak Tasawuf ditetapkan sebagai mata kuliah yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa pada setiap jurusan yang ada di Perguruan Tinggi Islam, baik negeri maupun swasta. Dalam bidang tasawuf, makalah ini membahas tentang  pemikiran tasawuf menurut para ahli tasawuf spesifiknya mengenai pemikiran tasawuf menurut Abu Yazid al-Bustami dan Ibnu Arabi.

1.2                                                                                                                                                                                                 Tujuan
     Adapun tujuan menyusun makalah ini adalah :
·                                                                                                                                                                                                         Agar para pembaca dapat mengetahui dan memahami berbagai macam pemikiran para ahli tasawuf.
·                                                                                                                                                                                                         Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf.

1.3                                                                                                                                                                                                  Rumusan Masalah
     Pada makalah ini yang akan dibahas adalah :
1.                                                                                                                                                                                                      Apa pokok pemikiran tasawuf menurut Abu Yazid al-Bustami dan Ibnu Arabi ?
2.                                                                                                                                                                                                      Bagaimana tata cara tokoh-tokoh tersebut mengemukakan pemikirannya ?
3.                                                                                                                                                                                                      Apa karakteristik pemikiran  masing-masing tokoh tersebut ?

















                                                     BAB II
PEMBAHASAN

A.                PEMIKIRAN TASAWUF ABU YAZID AL-BUSTAMI dan IBNU ARABI

1)                 Abu Yazid al-Bustami

                    ·                        Biografi tokoh
Nama lengkapnya adalah Abu Yazid bin Isa bin Syurusan al-Bustami. Dia lahir sekitar tahun 200 H/814 M di Bustam, bagian Timur Laut Persia. Di Bustam ini pula ia meninggal dunia pada tahun 261 H/875 M.
Perjalanan Abu Yazid untuk menjadi seorang sufi memakan waktu puluhan tahun. Sebelum Abu Yazid mempelajari tasawuf, ia belajar islam menurut mazhab Hanafi. Abu Yazid adalah seorang zahid yang terkenal. Baginya zahid itu adalah seseorang yang telah menyediakan dirinya untuk hidup berdekatan dengan Allah. Hal ini berjalan melalui tiga fase, yaitu zuhud terhadap dunia, zuhud terhadap akhirat dan zuhud terhadap selain Allah. Dalam menjalani kehidupan zuhud, selama 13 tahun, Abu Yazid mengembara di gurun-gurun pasir di Syam, hanya dengan tidur, makan, dan minum yang sedikit sekali.[1]

                    ·                        Pemikiran Tasawuf Abu Yazid al-Bustami

Abu Yazid merupakan seorang tokoh sufi yang membawa ajaran yang berbeda dengan ajaran-ajaran tasawuf sebelumnya. Ajaran yang dibawanya banyak ditentang oleh ulama fiqih dan kalam, itulah yang menjadi penyebab ia keluar masuk penjara. Meskipun demikian, ia memperoleh banyak pengikut, yaitu mereka yang percaya kepada ajaran yang dibawanya.
Kata-kata yang diucapkannya seringkali mempunyai arti yang begitu mendalam sehingga jika ditangkap secara lahir akan membawa kepada syirik, karena mempesekutukan Allah dengan manusia. Antara lain sebagaimana ucapannya : “Aku ini Allah, tidak ada Tuhan kecuali Aku, maka sembahlah Aku.” Katanya pula : “Betapa sucinya Aku, betapa besarnya Aku.”
Memang dalam sejarah perkembangan tasawuf, Abu Yazid dipandang sebagai pembawa paham al-Fana’ dan al-Baqa serta sekaligus pencetus paham al-Ittihad. Dan A.J.Aberry menyebutnya sebagai “First of intoxicated sufis” (Sufi yang mabuk kepayang pertama).
Pokok ajaran tasawuf Abu Yazid adalah:
Ø    Fana’ dan Baqa
Dari segi bahasa al-fana’ berasal dari kata “faniya” yang berarti musnah atau leyap. Dalam istilah tasawuf, adakalanya diartikan sebagai keaadaan moral yang luhur. Dalam hal ini, Bakar al-Kalabadzi (w.378 H/988 M) mendefenisikan : “hilangnya semua keinginan hawa nafsu seseorang, tidak tidak ada pamrih dari segala kegiatan manusia, sehingga ia kehilangan segala perasaannya dan dapat membedakan sesuatu secara sadar dan ia menghilangkan segala kepentingan ketika berbuat sesuatu.[2]
            Jalan menuju fana’ menurut Abu Yazid dikisahkan dalam mimpinya menatap Tuhan. Ia bertanya, “Bagaimana caranya agar aku bisa sampai padaMu?”. Tuhan menjawab, “Tinggalkan diri (nafsu) mu dan kemarilah.”
             Adapun Baqa berasal dari kata “Baqiya” yang artinya adalah tetap. Sedang menurut istilah berarti mendirikan sifat-sifat terpuji kepada Allah. Paham baqa ini tidak dapat dipisahkan dengan paham fana’.
Ø    Ittihad

Ittihad adalah tahapan selanjutnya yang dialami seorang sufi setelah ia melalui paham fana’ dan baqa. Hanya saja dalam literature klasik, pembahasan tentang ittihad ini tidak ditemukan. Menurut Harun Nasution, uaraian tentang ittihad ini banyak terdapat di dalam buku karangan orientalis.
Dalam tahapan Ittihad, seorang sufi bersatu dengan Tuhan. Antara yang mencintai dan yang dicintai menyatu, baik substansi maupun perbuatannya. Harun Nasution memaparkan bahwa Ittihad adalah satu tingkatan yang menunjukkan bahwa yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu, sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu lagi dengan kata-kata, “Hai Aku!”. Dengan mengutip A.R. al-Baidawi, Harun menjelaskan bahwa dalam ittihad yang dilihat hanya satu wujud sungguhpun sebenarnya ada dua wujud yang berpisah satu dari yang lain. Karena yang dilihat dan dirasakan hanya satu wujud, maka dalam ittihad dapat terjadi pertukaran antara yang mencintai dan yang dicintai, atau secara tegasnya antara sufi dengan Tuhan.

Masalah ucapan-ucapan aneh (Syatahat, Theopathical Stammerings) ini telah dikaji secara mendalam oleh Louis Massignon. Menurutnya, ucapan itu muncul pada seorang sufi dalam bentuk orang pertama di luar sadarnya. Hal ini berarti bahwa dia telah fana’ dari dirinya sendiri serta kekal dalam Dzat yang Maha Besar, sehingga dia mengeluarkan kata-kata dengan kalam yang Maha Besar, bukan ucapannya sendiri. Ungkapan-ungkapan yang diucapkan oleh seorang sufi dalam kondisi begini tidak ia ucapkan dalam kondisi normalpan-ungkapan yang diucapkan oleh seorang sufi dalam kondisi begini tidak ia ucapkan dalam kondisi normal. Sebab, jika ungkapan demikian tejadi dalam keadaan normal, jelas akan ditolak sendiri oleh orang yang mengucapkannya.

Tampaknya, bagaimanapun ajaran yang dikemukakan Abu Yazid, semuanya mengacu kepada tema pahamnya, yaitu Ittihad yang berawal, atau sebagai akibat, dari paham fana’. Ciri yang mendominasi paham fana’ Abu Yazid adalah sirnanya segala sesuatu selain Allah dari pandangannya, diman seorang sufi tidak lagi menyaksikan kecuali hakikat yang satu, yaitu Allah. Bahka dia tidak lagi melihat dirinya sendiri karena terlebur dalam Dia yang disaksikannya. Dalam paham fana’ ini terkandung pula sirnanya kehendak. Semua orang sepakat bahwa dia tidak mempunyai keinginannya.[3]

Akhirnya perlu pula dikemukakan bahwa al-Sulami didalam karyanya Tabaqat al-Sufiyah, al-Tusi di dalam karyanya al-Luma’ dan al-Qusyairi di dalam karyanya Al-Risalah al-Qusyairiyah telah membahas telah membahas ungkapan-ungkapan Abu Yazid yang sejalan dengan Al-Quran dan sunnah serta berpendapat bahwa tasawuf yang dikemukakannya seiring dengan kedua sumber ajaran Islam tersebut.


2)                Ibnu Arabi

                    ·                        Biografi tokoh
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Muhyiddin al-Hatimi al-Ta’I al-Andalusi. Di Andalusi (Barat) dia dikenal dengan nama Ibnu Arabi, tanpa alif lam (bukan Ibn al-Arabi). Dia lahir pada tanggal 17 Ramadhan 560 H/ 28 Juli 1163 M, di Mercia dan meninggal pada tanggal 28 Rabiul Awal 638 H/ 16 November 1240 M.

Diantara karya monumentalnya adalah Al-Futuhat Al-Makiyyah yang ditulis pada tahun 1201 tatkala ia sedang menunaikan ibadah haji. Karya lainnya adalah Tarjuman Al-Asuywaq yang ditulis untuk mengenang kecantikan, ketaqwaan dan kepintaran seorang gadis cantik dari keluarga seorang sufi dari Persia. Karya lainnya, sebagaimana dilaporkan oleh Muolvi, adalah Masyahid Al-Asrar, Mathali’ Al-Anwar Al-Ilahiyyah, Hiyat al-Abdal, Kimiya al-Sa’adat, Mudharat al-Abrar, dan lain-lain.


                    ·                        Pemikiran Tasawuf  Ibnu Arabi

Ajaran sentral Ibnu Arabi adalah tentang Wahdat Al-Wujud (kesatuan wujud). Meskipun demikian, istilah Wahdat al-Wujud yang dipakai untuk menyebut ajaran sentralnya itu, tidaklah berasal dari dia, tetapi berasal dari Ibnu Thaimiyah, tokoh yang paling keras dalam mengecam dan mengkritik ajaran sentralnya tersebut. Wahdat al-wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu wahdat  dan al-wujud. Wahdat artinya sendiri, tunggal atau kesatuan sedangkan wujud artinya ada. Dengan demikian wahdat al-wujud berarti kesatuan wujud.

Menurut Ibnu Taimiyyah, wahdat al-wujud adalah penyamaan Tuhan dengan alam. Menurutnya, orang-orang yang mempunyai paham wahat al-wujud mengatakan bahwa wujujud itu sesungguhnya hanya satu dan wajib Al-wujud yang dimiliki oleh khaliq adalah juga mungkin Al-wujud yang dimiliki oleh makhluk. Selain itu, orang-orang yang mempunyai paham wahdat al-wujud juga mengatakan bahwa wujud alam sama dengan wujud Tuhan, tidak ada kelainan dan tidak ada perbedaan.
Menurut Ibn Arabi, wujud semua yang ada ini hanyalah satu dan pada hakikatnya wujud makhluk adalah wujud khaliq pula. Tidak ada perbedaan antara keduanya (khaliq dan makhluk) dari segi hakikat. Hal ini tersimpul dalam ucapan Ibnu Arabi berikut ini:

 من  أظهر الأشياء وهوعينها بحان

Artinya: “Maha suci Tuhan yang telah menjadikan segala sesuatu dan Dia sendiri adalah hakikat segala sesuatu itu.”

           


[1] M.M. Syarif, A History of Muslim Philosophy, Otto Harrassowitz, Wiesbaden, 1966, vol. I, hlm. 342

[2] Ibid.
[3] Taftazani, op. cit., hlm. 119.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar