Selasa, 27 Desember 2011



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. Bahwa penulis telah menyelesaikan tugas mata kuliah Sejarah Peradaban Islam yang membahas tentang Pemikiran Tasawuf Abu Yazid al-Bustami dan Ibnu Arabi dalam bentuk makalah.
 Selanjutnya, makalah yang kini berada dihadapan pembaca yang budiman, disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf. Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan dari berbagai pihak, terutama dorongan dan bimbingan dari orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi       teratasi. Oleh karena itu         penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.                 Bapak Drs. M. Syafwan HB, M.A. dosen pembimbing mata kuliah akhlak tasawuf yang telah memberikan tugas, pedoman, kepada penulis sehingga penulis termotivasi dalam menyelesaikan tugas ini.
2.                 Orang tua yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas ini selesai.
3.                 Rekan-rekan semua dijurusan PBA yang juga ikut menyumbangkan hasil pemikirannya demi kesempurnaan makalah ini.
4.                  Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam penulisan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah. Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amin.
Padang, 22 Oktober 2011
                                                                                Ttd






BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Akhlak Tasawuf merupakan salah satu khazanah intelektual Muslim yang kehadirannya hingga saat ini semakin dirasakan. Secara teologis dan histologis, Akhlak Tasawuf tampil mengawal dan memandu perjalanan hidup umat agar selamat dunia dan akhirat. Tidaklah berlebihan jika misi utama kerasulan Muhammad SAW. adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, dan sejarah mencatat bahwa faktor pendukung keberhasilan dakwah beliau itu antara lain karena dukungan akhlaknya yang prima, hingga hal ini dinyatakan oleh Allah di dalam Al-Quran.
          Kepada umat manusia, khususnya yang beriman kepada Allah diminta agar akhlak dan keluhuran budi Nabi Muhammad SAW. itu dijadikan contoh dalam kehidupan diberbagai bidang. Mereka yang mematuhi permintaan ini dijamin keselamatan hidupnya di dunia dan di akhirat.
          Perhatian terhadap pentingnya Akhlak Tasawuf kini muncul kembali, yaitu disaat manusia modern ini dihadapkan pada masalah moral dan akhlak yang cukup serius, yang kalau dibiarkan akan menghancurkan masa depan bangsa yang bersangkutan. Praktek hidup yang menyimpang dan penyalahgunaan kesempatan dengan mengambil bentuk perbuatan sadis dan merugikan orang lain kian tumbuh subur di wilayah yang tak berakhlak dan tak bertasawuf. Korupsi, kolusi, penodongan, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, dan perampasan hak-hak asasi manusia pada umumnya terlalu banyak yang dapat dilihat dan disaksikan. Cara mengatasinya bukan hanya dengan uang, ilmu pengetahuan dan tekhnologi, tetapi harus dibarengi dengan penanganan di bidang mental spiritual dan akhlak yang mulia.
             Melihat demikian pentingnya akhlak tasawuf dalam kehidupan ini, tidaklah mengherankan jika Akhlak Tasawuf ditetapkan sebagai mata kuliah yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa pada setiap jurusan yang ada di Perguruan Tinggi Islam, baik negeri maupun swasta. Dalam bidang tasawuf, makalah ini membahas tentang  pemikiran tasawuf menurut para ahli tasawuf spesifiknya mengenai pemikiran tasawuf menurut Abu Yazid al-Bustami dan Ibnu Arabi.

1.2                                                                                                                                                                                                 Tujuan
     Adapun tujuan menyusun makalah ini adalah :
·                                                                                                                                                                                                         Agar para pembaca dapat mengetahui dan memahami berbagai macam pemikiran para ahli tasawuf.
·                                                                                                                                                                                                         Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf.

1.3                                                                                                                                                                                                  Rumusan Masalah
     Pada makalah ini yang akan dibahas adalah :
1.                                                                                                                                                                                                      Apa pokok pemikiran tasawuf menurut Abu Yazid al-Bustami dan Ibnu Arabi ?
2.                                                                                                                                                                                                      Bagaimana tata cara tokoh-tokoh tersebut mengemukakan pemikirannya ?
3.                                                                                                                                                                                                      Apa karakteristik pemikiran  masing-masing tokoh tersebut ?

















                                                     BAB II
PEMBAHASAN

A.                PEMIKIRAN TASAWUF ABU YAZID AL-BUSTAMI dan IBNU ARABI

1)                 Abu Yazid al-Bustami

                    ·                        Biografi tokoh
Nama lengkapnya adalah Abu Yazid bin Isa bin Syurusan al-Bustami. Dia lahir sekitar tahun 200 H/814 M di Bustam, bagian Timur Laut Persia. Di Bustam ini pula ia meninggal dunia pada tahun 261 H/875 M.
Perjalanan Abu Yazid untuk menjadi seorang sufi memakan waktu puluhan tahun. Sebelum Abu Yazid mempelajari tasawuf, ia belajar islam menurut mazhab Hanafi. Abu Yazid adalah seorang zahid yang terkenal. Baginya zahid itu adalah seseorang yang telah menyediakan dirinya untuk hidup berdekatan dengan Allah. Hal ini berjalan melalui tiga fase, yaitu zuhud terhadap dunia, zuhud terhadap akhirat dan zuhud terhadap selain Allah. Dalam menjalani kehidupan zuhud, selama 13 tahun, Abu Yazid mengembara di gurun-gurun pasir di Syam, hanya dengan tidur, makan, dan minum yang sedikit sekali.[1]

                    ·                        Pemikiran Tasawuf Abu Yazid al-Bustami

Abu Yazid merupakan seorang tokoh sufi yang membawa ajaran yang berbeda dengan ajaran-ajaran tasawuf sebelumnya. Ajaran yang dibawanya banyak ditentang oleh ulama fiqih dan kalam, itulah yang menjadi penyebab ia keluar masuk penjara. Meskipun demikian, ia memperoleh banyak pengikut, yaitu mereka yang percaya kepada ajaran yang dibawanya.
Kata-kata yang diucapkannya seringkali mempunyai arti yang begitu mendalam sehingga jika ditangkap secara lahir akan membawa kepada syirik, karena mempesekutukan Allah dengan manusia. Antara lain sebagaimana ucapannya : “Aku ini Allah, tidak ada Tuhan kecuali Aku, maka sembahlah Aku.” Katanya pula : “Betapa sucinya Aku, betapa besarnya Aku.”
Memang dalam sejarah perkembangan tasawuf, Abu Yazid dipandang sebagai pembawa paham al-Fana’ dan al-Baqa serta sekaligus pencetus paham al-Ittihad. Dan A.J.Aberry menyebutnya sebagai “First of intoxicated sufis” (Sufi yang mabuk kepayang pertama).
Pokok ajaran tasawuf Abu Yazid adalah:
Ø    Fana’ dan Baqa
Dari segi bahasa al-fana’ berasal dari kata “faniya” yang berarti musnah atau leyap. Dalam istilah tasawuf, adakalanya diartikan sebagai keaadaan moral yang luhur. Dalam hal ini, Bakar al-Kalabadzi (w.378 H/988 M) mendefenisikan : “hilangnya semua keinginan hawa nafsu seseorang, tidak tidak ada pamrih dari segala kegiatan manusia, sehingga ia kehilangan segala perasaannya dan dapat membedakan sesuatu secara sadar dan ia menghilangkan segala kepentingan ketika berbuat sesuatu.[2]
            Jalan menuju fana’ menurut Abu Yazid dikisahkan dalam mimpinya menatap Tuhan. Ia bertanya, “Bagaimana caranya agar aku bisa sampai padaMu?”. Tuhan menjawab, “Tinggalkan diri (nafsu) mu dan kemarilah.”
             Adapun Baqa berasal dari kata “Baqiya” yang artinya adalah tetap. Sedang menurut istilah berarti mendirikan sifat-sifat terpuji kepada Allah. Paham baqa ini tidak dapat dipisahkan dengan paham fana’.
Ø    Ittihad

Ittihad adalah tahapan selanjutnya yang dialami seorang sufi setelah ia melalui paham fana’ dan baqa. Hanya saja dalam literature klasik, pembahasan tentang ittihad ini tidak ditemukan. Menurut Harun Nasution, uaraian tentang ittihad ini banyak terdapat di dalam buku karangan orientalis.
Dalam tahapan Ittihad, seorang sufi bersatu dengan Tuhan. Antara yang mencintai dan yang dicintai menyatu, baik substansi maupun perbuatannya. Harun Nasution memaparkan bahwa Ittihad adalah satu tingkatan yang menunjukkan bahwa yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu, sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu lagi dengan kata-kata, “Hai Aku!”. Dengan mengutip A.R. al-Baidawi, Harun menjelaskan bahwa dalam ittihad yang dilihat hanya satu wujud sungguhpun sebenarnya ada dua wujud yang berpisah satu dari yang lain. Karena yang dilihat dan dirasakan hanya satu wujud, maka dalam ittihad dapat terjadi pertukaran antara yang mencintai dan yang dicintai, atau secara tegasnya antara sufi dengan Tuhan.

Masalah ucapan-ucapan aneh (Syatahat, Theopathical Stammerings) ini telah dikaji secara mendalam oleh Louis Massignon. Menurutnya, ucapan itu muncul pada seorang sufi dalam bentuk orang pertama di luar sadarnya. Hal ini berarti bahwa dia telah fana’ dari dirinya sendiri serta kekal dalam Dzat yang Maha Besar, sehingga dia mengeluarkan kata-kata dengan kalam yang Maha Besar, bukan ucapannya sendiri. Ungkapan-ungkapan yang diucapkan oleh seorang sufi dalam kondisi begini tidak ia ucapkan dalam kondisi normalpan-ungkapan yang diucapkan oleh seorang sufi dalam kondisi begini tidak ia ucapkan dalam kondisi normal. Sebab, jika ungkapan demikian tejadi dalam keadaan normal, jelas akan ditolak sendiri oleh orang yang mengucapkannya.

Tampaknya, bagaimanapun ajaran yang dikemukakan Abu Yazid, semuanya mengacu kepada tema pahamnya, yaitu Ittihad yang berawal, atau sebagai akibat, dari paham fana’. Ciri yang mendominasi paham fana’ Abu Yazid adalah sirnanya segala sesuatu selain Allah dari pandangannya, diman seorang sufi tidak lagi menyaksikan kecuali hakikat yang satu, yaitu Allah. Bahka dia tidak lagi melihat dirinya sendiri karena terlebur dalam Dia yang disaksikannya. Dalam paham fana’ ini terkandung pula sirnanya kehendak. Semua orang sepakat bahwa dia tidak mempunyai keinginannya.[3]

Akhirnya perlu pula dikemukakan bahwa al-Sulami didalam karyanya Tabaqat al-Sufiyah, al-Tusi di dalam karyanya al-Luma’ dan al-Qusyairi di dalam karyanya Al-Risalah al-Qusyairiyah telah membahas telah membahas ungkapan-ungkapan Abu Yazid yang sejalan dengan Al-Quran dan sunnah serta berpendapat bahwa tasawuf yang dikemukakannya seiring dengan kedua sumber ajaran Islam tersebut.


2)                Ibnu Arabi

                    ·                        Biografi tokoh
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Muhyiddin al-Hatimi al-Ta’I al-Andalusi. Di Andalusi (Barat) dia dikenal dengan nama Ibnu Arabi, tanpa alif lam (bukan Ibn al-Arabi). Dia lahir pada tanggal 17 Ramadhan 560 H/ 28 Juli 1163 M, di Mercia dan meninggal pada tanggal 28 Rabiul Awal 638 H/ 16 November 1240 M.

Diantara karya monumentalnya adalah Al-Futuhat Al-Makiyyah yang ditulis pada tahun 1201 tatkala ia sedang menunaikan ibadah haji. Karya lainnya adalah Tarjuman Al-Asuywaq yang ditulis untuk mengenang kecantikan, ketaqwaan dan kepintaran seorang gadis cantik dari keluarga seorang sufi dari Persia. Karya lainnya, sebagaimana dilaporkan oleh Muolvi, adalah Masyahid Al-Asrar, Mathali’ Al-Anwar Al-Ilahiyyah, Hiyat al-Abdal, Kimiya al-Sa’adat, Mudharat al-Abrar, dan lain-lain.


                    ·                        Pemikiran Tasawuf  Ibnu Arabi

Ajaran sentral Ibnu Arabi adalah tentang Wahdat Al-Wujud (kesatuan wujud). Meskipun demikian, istilah Wahdat al-Wujud yang dipakai untuk menyebut ajaran sentralnya itu, tidaklah berasal dari dia, tetapi berasal dari Ibnu Thaimiyah, tokoh yang paling keras dalam mengecam dan mengkritik ajaran sentralnya tersebut. Wahdat al-wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu wahdat  dan al-wujud. Wahdat artinya sendiri, tunggal atau kesatuan sedangkan wujud artinya ada. Dengan demikian wahdat al-wujud berarti kesatuan wujud.

Menurut Ibnu Taimiyyah, wahdat al-wujud adalah penyamaan Tuhan dengan alam. Menurutnya, orang-orang yang mempunyai paham wahat al-wujud mengatakan bahwa wujujud itu sesungguhnya hanya satu dan wajib Al-wujud yang dimiliki oleh khaliq adalah juga mungkin Al-wujud yang dimiliki oleh makhluk. Selain itu, orang-orang yang mempunyai paham wahdat al-wujud juga mengatakan bahwa wujud alam sama dengan wujud Tuhan, tidak ada kelainan dan tidak ada perbedaan.
Menurut Ibn Arabi, wujud semua yang ada ini hanyalah satu dan pada hakikatnya wujud makhluk adalah wujud khaliq pula. Tidak ada perbedaan antara keduanya (khaliq dan makhluk) dari segi hakikat. Hal ini tersimpul dalam ucapan Ibnu Arabi berikut ini:

 Ù…Ù†  أظهر الأشياء وهوعينها بحان

Artinya: “Maha suci Tuhan yang telah menjadikan segala sesuatu dan Dia sendiri adalah hakikat segala sesuatu itu.”

           


[1] M.M. Syarif, A History of Muslim Philosophy, Otto Harrassowitz, Wiesbaden, 1966, vol. I, hlm. 342

[2] Ibid.
[3] Taftazani, op. cit., hlm. 119.


MOTIVASI
A.   Pengertian Motivasi
Motiv atau dalam bahasa ingrisnya motive,berasal dari kata motion yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak, jadi istilah motif erat hubungannya dengan gerak, yaitu gerakan yang dilakukan oleh manusia atau disebut juga perbuatan atau tingkahlaku, motif dalam psikologi berarti rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga bagi terjadinyasuatu tingkahlaku.[1]
Disamping istilah motif, dikenal pula dalam psikologi istilah motivasi, motivasi merupakan istilah yang lebih umum yang menunjuk kepada seluruh proses gerakan, termasuk situasi, yang mendorong kepada seluruh proses dalam diri individu, tingkahlaku yang ditimbulkan oleh situasi yang mendorong dorongan yang timbul dalam diri individu, tingkahlaku yang ditimbulkan oleh situasi tersebut, dan tujan atau akhir dari gerakan atau perbuatan.
Ada beberrapa pendapat mengenai motif. Salah satunya pendapat mengatakan bahwa motif adalah energy dasar yang terdapat dalam diri seseorang. Sigmund Freud adalah salah salah seorang sarjana yang berpendapat demikian. Tiap tingkah, menurut Freud didorong oleh suatu energy dasar yang disebut instink. Instink ini oleh freud dibagi dua:
1.      Instink kehidupan atau instink seksual atau libido, yaitu dorongan untuk mempertahankan hidup dan mengembangkan turunan.
2.      Instink yang mendorong perbuatan-perbuatan agresif atau yang menjurus kepada kematian
Sarjana-sarjana lain yang juga mengakui motif sebagai energy dasar adalah:
1.      Bergson dengan teori elan vital mengakui adanya factor yang bersifat non material yang  mengatur tingkahlaku
2.      Mc. Dougall dengan teori hormic, mengatakan bahwa tingkahlaku ditentukan oleh hastrat, kecendrungan bekerjanya analog dengan kenyataan-kenyataan dalam dunia ilmu alam dan ilmu kimia
Kebutuhan manusia yang bersifat fisiologi berkaitan dengan keseimbangan organic dan kimiawi dalam tubuh seperti kekurangan sari makanan atau kandunagn air dalam tubuh. Kebutuhan ini mendorong manusia supaya berusaha memperoleh makanan untuk memenuhi kebutuhannya. Aktifitas seperti ini bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan kondisi tubuh. Motivasi seperti ini disebtu motifasi fisiologisyang bersifat naluriah dan tidak diperoleh melalui proses pembelajaran. Motifasi fisiologis dapat terjadi pada setiap manusia dan hewan, motifasi ini meliputi berbagai kebutuhan seperti rasa lapar, istirahat, menghindari suhu panas
dan dingin, buang”besar dan kecil”, menghindari rasa sakit pada organ tubh, hubungan seksual dan keibuan.[2]
B.     Studi Ilmiyah Tentang Motif Manusia
 salah satu pendapat mengatakan bahwa motif merupakan energy dasar yang terdapat dalam diri seseorang, Sigmunt Freud adalah seseorang sarjana yang berpendapat demikian  
Dengan berkembangnya psikologi ilmiyah mederen pada pertengahan adab ke-19, kaitan antara dua unsur itu diperoleh arti baru yang spesifik. Studi mengenai motivasi manusia, ketika itu, sangant di pengaruhi oelh karya-karya biolog ingris, Charles Darwin, bahwa manusia dianggap sebagai makhluk yang terlibat pergaulan keras dengan alam untuk bisa bertahan hidup.[3]
Para biolog dan psikologi menyatakan bahwa hasrat seperti itu secara mekanis dikendalikan oleh tubuh manusia mereka mengatakan bahwa berbagai kebutuhan badaniyah apabila tidak terpenuhi akan menggerakkan tanda-tanda bahaya btertentu yang akan menganggu tubuh hingga kebutuhan tersebut terpenuhi contoh: kebutuhan makanan. Apabila tidak memperoleh makanan, kita tidak akan bertahan hidup
C.   Motiv dan Motivasi
Motiv merupakan pengertian yang melingkupi pennggerak alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusialah yang menyebabkan manusia itu
berbuat sesuatu, motiv manusia bisa bekerja secara sadar maupun tidak sadar untuk mengerti dan memahami tingkah laku manusia dengan lebih sempurna, motiv manusia merupakan dorongan, hasrat, keinginan dan lainnya. Motiv itu member tujuan dan arah kepada tingkah laku kita.
Beberpa pendapa mengenai pengertian motiv. Sherif dan Sherif (1956) misalnya. Menyebutkan motiv sebagai suatu istilah generic yang meliputi semua factor internal yang mengarak kepada berbagai jenis perilaku yang bertujuan, semua pengaruh internal, seperti dorongan dan keinginan aspirasi yang bersumber dari fungsi-fungsi tersebut, Gidden (1991:64) motiv sebagai implus atau dorongan yang menberi energy pada tindakan manusia sepanjang lintasan kognitif/prilaku kearah pemuasan kebutuhan menurutnya, motiv tidak dipersepsikan secara sadar. Ia lebih merupakan suatu keadaan perasaan. Nasution menjelaskan bahwa motiv adalah segala yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu dalam bukunya Manegment, Harold Koontz dan kawan-kawan (1980: 632) mengemukakan bahwa motiv” suatu keadaan dari dalam yang member kekuatan yang menggiatkan, atau menggerakkan sehingga disebut penggerakkan atau motivasi dan mengarahkan atau menyelurkan prilaku kearah tujuan-tujuan.
Menurut Guralnik (1973:314) motiv :suatu perangsang dari dalam suatu gerak hati dan sebagainya yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu . R.S. Woodworth motiv sebagai suatu set yang dapat atau mudah menyebabkan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu dan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, jadi, motiv adalah tujuan.tujuan ini disebut intensif, intensif bisa diartikan sebagai suatu tujuan yang menjadi arah suatu kegiatan yang bermotif contoh seperti telah disinggung, adalah lapar, maka insentifnya adalah makanan.
Disamping itu menurut Woodworth dan Marquis motif itu dapat dibedakan:
1.      Motif yang berhubugan dengan kebutuhan jasmaniah (organic needs), yaitu merupakan motif yang berhubungan dengan kelangsungan hidup individu
2.      Motif darurat merupakan motif untuk tindakan-tindakan dengan segera karena keadaan sekitarmenuntutnya, misalnya motif untuk melepaskan diri dari bahaya, dan lai –lain
3.      Motif objektif yaitu merupakan motif untuk mengadakan hubungan dengan keadaan sekitarnya, baik terhadap orang-orang maupun benda-benda misalnya motif eksploitasi, motif manipulasi dan lain-lainya.[4]
Para ahli memberikan pengertian tentang motivasi dengan bahasa dan titik tekan yang berbeda-beda bahwa motiv adalah kondisi seseorang yang mendorong untuk mencari suatu kepuasan atau mencapai suatu tujuan. Jadi, motiv adalah suatu alas an atau dorongan yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu, atau bersikap tertentu 
Secara etimologi motiv dalam bahasa ingrisnya motive, berasal dari kata motion, yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak jadi, istilah motiv erat berkaitan dengan gerak yakni gerakan yang dilakukan oleh manusia yang disebut juga tingkah laku, motiv dalam psikolpgi berarti rangsangan, dorongan atau pembangkit tenaga bagi terjadi suatu tingkah laku. Dalam psikologi dikenal dengan istilah motivasi, motivasi merupakan istilah yang lebih umum yang menunjuk pada seluruh proses gerakan, termasuk situasi yang mendorong, dorongan dalam individu atau menggerakan seseorang atau diri sendiri untuk berbuat sesuatu dalam rangka mencapai suatu kepuasan atau ujuan, contoh jika terjadi suatu pembunuhan misalnya yang pertama-tama muncul pada benak seorang petugas kepolosian ialah pertanyaan apakah motiv pembunuhan itu?, artinya, jika seorang mebunuh pasti ada motivnya.
            Motivasi bukan merupakan suatu kekuatan yang netral, atau kekuatan yang kebal terhadap factor-faktor lain misalnya, situasi lingkungan, cita-cita hidup dan lain-lain. Ada dua unsur pokok motiv yaitu unsure dorongan atau kebutuhan dan unsur tujuan (Handoko, 1992:10) proses interaksi antara kedua unsure ini terjadi pada diri manusia namun dipengaruhi hal-hal luar diri manusia misalnya keadaan cuaca, kondisi lingkungan dan sebagainya.
            Dalam pandangan Dister, setiap tingkahlaku manusia merupakan buah hasil dari hubungan dinamika timbale balik antara tiga factor. Ketiga factor itu ialah:
1.      Sebuah gerak atau dorongan yang secara spontan alamiyah yang terjadi pada manusia
2.      Keakuan manusia sebagai inti pusat kepribadiannya
3.      Situasi manusia atau lingkungan hidupnya (Dister, 1994: 72-73) tinjauan secara rinci mengenai ketiga factor tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Dorongan Spontan Manusia
Artinya. Dorongan ini timbul dengan sendirinya dan tidak ditimbulkan manusia dengan sengaja. Dorongan semacam ini bersifat alamiyah dan bekerja otomatis. Tidak dikerjakan manusia dengan tahu dan mau contohnya dorongan seksual, nafsu makan ,kebutuhan akan tidur, perbuatan tersebut boleh dikatakan mendahului pribadi manusia artinya, perbuatan itu belum dijiwai atau diserapi oleh inti kepribadian yang bersangkutan
b.      Keakuan sebagai inti pusat kepribadian manusia suatu dorongan yang secara spontan ia jadikan miliknya sendiri, kalau ia menanggapi dorongan itu secara positif , ia menyetujui dorongan itu dan mengambil bagian dalam kejadian dalam itu
c.       Situasi atau lingkungan hidup manusia
Limgkungan adalah buah hasil dari pertukaran antara pengalaman batin manusia dan hal ikhwal diluar diri manusia
D.    LINGKUNGAN MOTIVASI (MOTIVATIONAL CYCLE
1.      Kebutuhan, dari arti psikologis Mustafa fahmi menjelaskan kebutuhan sebagai suatu istilah yang digunakan secara sederhana untuk menunjukkan suatu oikiran atau konsep yang menunjuk kepada tingkah laku makhluk hidup dalam perubahan dan perbaikan yang tergantung atas tunduk dan diharapkan pada proses pemilihan (Fahmi, 1977: 45) batasan ini dikenal sebagai batasan prakmatis, Mc Quail, belum blumler dan Brown (1972: 144) berpendapat bahwa kebutuhan berasal dari penagalaman sosial dan bahwa media masa sekalipun kadang-kadang dapat membantu membangkitkan khalayak ramai akan kebutuhan sosial tertentu.
Istilah kebuthan juga mengimplikasikan suatu keadaan kekurangan seperti lapar dan haus, jadi bahwa kebutuhan ini mendasar bagi kesejahteraan individu. Pada umumnya para ahli psikolog berpendapat bahwa manusia juga tergerak untuk menemukan, menumbuhkan kebutuhan-kebutuhan tingkat yang lebih tinggi menjadimenonjol ketika kebutuhan biologis dan rasa aman terpenuhi
E.     TINGKAHLAKU
Lingkaran motivasi adalAh tingkahlaku yang diperguanakn sebagai cara atau alat agar suatu tujuan bisa tercapai. Jadi tingkahlaku pada dasarnya ditujukan untuk mencapai tujuan. Tujuan tertentu tidak selau diketahui secara sadar oleh seorang individu. Kesimpulan umum menurut Levid (Leavid. 1978)
·         Manusia adalah produk dari lingkungannya
·         Manusia menginginkan keamanan
·         Yang dikehendaki manusia adalah roti dan keju
·         Manusia pada dasarnya malas
·         Manusia pada dasarnya mementingkan diri sendiri
Menurut Leavid terkandung tiga asumsi penting
a.       Pandangan tentang sebab akibat yaitu pendapat bahwa tingkahlaku manusi itu ada sebabnya, sebab merupakan hal yang mutlak bagi paham lingkungan dan keturunan mempengaruhi tingkahlaku dan bahwa apa yang ada diluat mempengaruhi apa yang ada didalam
b.      Pandangan tentang arah atau tujuan ( directedness) yaitu tingkahlaku manusia tidak hanya disebabkan oelh sesuatu, tetapi juga menuju kea rah sesuatu atau bahwa manusia pada hakikatnya ingin menuju sesuatu
c.       Konsep tentang motivasi (motivation) yang melatar belakangi tingkah laku, yang dikenal juga dengan desakan atau keinginan (want) atau kebutuhan( need) dorongan (drive)
Psikologi memandang tingkahlaku manusia ( human Vior)
F.     TUJUAN
Unsur ketiga dari lingkaran motivasi ailah tujuan yang berfungsi untuk memotivasi tingkahlaku.pada dasarnya tingkahlaku manusia itu bersifat majemuk, karena itu tujuan tingkahlaku acap kali tidak hanya satu selain tujuan poko (primer) ada pula tujuan lain yaitu sekunder[5] .
Tujuan ini juga bisa berupa objek yang konkret atau berupa sesuatu yang abstrak, bila seseorang merasa lapar, tujuannya adalah makanan, bila seseorang merasa kesepian tujuannya adalah bertemu orang lain. Dan bila tujuan-tujuan ini bisa diperoleh, kebutuhan terpenuhi, terpenuhinya kebutuhan ini barangkali hanya untuk sementar, sebab pada saat lain, kebutuhan bisa timbul lagi
G.    MOTIF SADAR DAN MOTIF TAK SADAR
Pada umumnya tingkahlaku manusia didasari motivasinya, tetapi setiap tingkahlaku tentu saja berbeda-beda. Ada tingkahlaku yang sungguh-sungguh didasari motivasinya, ada yang kurang begitu disadari ada pula hampei tidak disadari lagi motivasinya dari penelitian dapat disimpulkan bahwa semakin penting tindakan seseorang baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain, semakin penuh akan kesadaran akan motivasi yang menggerakkannya semakin rutin tindakan seseorang semakin kurang taraf kesadarannya
H.    MOTIF BIOGENETIS, SOSIOGENETIS DAN TEOGENETIS
Motif genetif merupakan motif-motif yang berasal dari kebutuhan organism orang demi kelanjutan kehidupannya secara biologis. Motif biogenetis ini bercorak universal dan kurang terikat pada lingkungan kebudayaan tempat manusia itu kebetulan berada dan berkembang. Motif biogenetif ini berbeda-beda sesuai dengan perbedaan yang terdapat diantara bermacam-macam corak kebudayaan di dunia.
Contoh motif biogenetif misalnya lapar, haus, kebutuhan akan kegiatan dan istirahat, mengambil nafas, sek dan buang air.selain kedua motif di atas ada pula motif lain yang disebut teogenetis. Motif-motif ini berasal dari interaksi antara manusia dan tuhan, seperti yang nyata dalam ibadahnya dan dalam kehidupannya sehari-harisaat ia berusaha mereliasasikan norma-norma agama tertentu.
Manusia memerlukan interaksi dengan Tuhannya untuk bisa menyadari tugasnya sebagai manusia yang berkebutuhan dalam masyarakat yang beragam ini, contoh motif teogenetis adalah keiginan untuk mengabdi kepada tuhan Yang Maha Esa, keinginan untuk mereliasasikan norma-norma agamanya menurut petunjuk kitab suci, dan alain-lainnya.


Daftar Pustaka
             Sobur Alex, Psikologi Umum, (Bandung : Pustaka Setia, 2003)
             Fauzi Ahmad, Psikologi Umum, (Bandung,  Pustaka Setia, 2004)
Ustman Najati Muhammad, Psikologi, (Jakarta, P.T pustaka Al Husna    Baru, 2004)
Damanik, Juda dkk. 2002. Alih Bahasa Life-Span Development,    Jakarta:Erlangga
          Ahmadi, Abu, Psikologi Umum (Jakarta, PT Rineka Cipta, 1998)

















[1] Ahmad Fauzi, Psikologi Umum, (Bandung, Pustaka Setia, 2004)
[2] Muhammad ‘Ustman Najati, Psikologi, (Jakarta : P.T Pustaka Al HUsna Baru, cet I 2004) hal.1
[3] Juda Damanik, Alih Bahasa Life;Span Development (Jakarta :Erlangga 2002)
[4] Abu Ahmadi, Psikologi Umum, (Jakarta: PT Rineka Cipta 1998)h. 142
[5] Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2003)hal.293